Minggu, 12 Maret 2017

KALAU HALAL PASTI KEMBALI

Kata-kata itu selalu terngiang di hati ini. Kata-kata dari Ibu saya saat saya kehilangan sesuatu milik saya yang sangat berarti. Saat ini, di hari Minggu sore, saya telah melakukan “something stupid” tanpa saya sadari. Saya kehilangan dompet saya beserta isinya: uang yang tidak sedikit (karena habis dapat bonus dari kantor), 2 kartu ATM, 1 kartu KTM, KTP, STNK, kartu Jamsostek, dan kartu-kartu keanggotaan lainnya. Bagaimana bisa hilang? Tanpa niatan buruk, Kakak saya ingin meminjam motor saya beserta STNK saya di dalam dompet. Kalau SNTK saya dipinjam, saya seringkali lupa memintanya kembali, padahal kakak-kakak saya, satu tinggal di Jakarta Barat dan satu lagi sedang ditugaskan dan tinggal di Makasar. Entah mengapa, kakak saya itu membawa STNK saya sekaligus dompet beserta isinya lengkap.

Alhasil, jam 16.30, dia pulang dengan membawa kabar kalau dompet saya hilang terjatuh di jalan. Saya yang mendengarnya langsung berucap istighfar, dan… “Innalillahi. .. ”, “Allahuakbar”. … Semua “identitas” saya ada di situ. Saya melaporkan ke kantor Polisi dan memblokir kartu ATM saya. Otak saya sulit berpikir, air mata ini terus mengalir saja.

Saya berpikir kemudian, “apa saya kurang bersedekah?” sehingga semua ini teguran Allah untuk saya? Di rumah, saya menghitung-hitung “hak” orang lain itu yang telah saya keluarkan bulan ini. Ternyata, sama sekali tidak ada masalah. Berarti, harapan saya hanya satu: “Kalau halal, pasti kembali….”

Sebelumnya, saya pernah mengalami hal-hal serupa: milik saya yang berharga hilang. Saat SD, saya belum mempunyai tabungan untuk membeli apa-apa, penghapus “Stedler” saya yang “mahal”, hilang di sekolah. Saya pulang sambil menangis. Ibu saya menenangkan saya, sambil berkata “kalau halal, pasti kembali… ” Dua hari kemudian, penghapus itu kembali saya temukan (walaupun sepertinya habis dipakai orang).

Sewaktu kuliah, saya bekerja “part time” dan dari hasil kerja saya, saya membeli HP baru seharga Rp1.500.000, 00. Entah, saat di angkot di depan Mal Depok, ada tiga orang pencuri HP akan mengambil HP saya, saya istighfar, sambil berdoa “Ya, Allah, saya membelinya dengan uang halal. ” Kemudian, pencuri itu ketahuan dan HP saya kembali.

Saat teman saya memberi saya saputangan kucing dari Jepang sebagai hadiah, terjatuh di kampus dan saya mencarinya tiga hari tidak ketemu, saya ikhlas sambil berucap: kalau barang itu halal, pasti kembali. Keesokan harinya, Office Boy kampus, menghampiri saya untuk memberitahu kalau dia telah menemukannya. Sulit dimengerti di kampus yang luas itu. Alhamdulillah.

Hal-hal serupa juga terjadi untuk yang lainnya, bahkan untuk “orang” lho (maksudnya??). Allah memang hebat, sesuai janjinya. Allahuakbar, terima kasihku tak terhingga, Ya Rabb.

Sudah empat jam sejak kehilangan dompet itu, hati ini terus menangis sambil “menunggu” kabar. Saya membaca Al-Waqi’ah dan Yaasin supaya otak dan hati ini tenang. Semakin lama tidak ada kabar, hati ini pasrah, ikhlas. Hilang tidak apa-apa. Jika harus kehilangan semuanya, saya akan bekerja lagi dan mulai dari awal. Kepunyaan saya, toh, Allah yang memilikinya jua. Jika diambil untuk suatu “hikmah”, saya ikhlas karena memang tidak ada niatan buruk. Saya mulai memikirkan untuk mengurus semua surat-surat keesokan harinya. Bibir ini jadi tersenyum terus memikirkan apa yang sudah terjadi.

Jam 9 malam, Ibu sedikit berteriak memanggil saya yang sudah lelah dan hendak “menidurkan” pikiran saya. Rupanya, ada dua orang laki-laki yang menemukan dompet saya. Mereka mengembalikannya lengkap dengan isi-isinya. Alhamdulillah, Ya, Rabb. Satu janji lagi telah terpenuhi. Saya memberi uang saku kepada kedua orang laki-laki itu, tidak banyak hanya Rp50.000, 00. Semoga Allah yang membalas mereka lebih dari saya.

Satu lagi yang saya pelajari dari kata-kata ibu saya: “kalau halal, pasti kembali….”Maafkan hamba-Mu, Ya, Rabb, karena telah melakukan banyak kesalahan tanpa disadari. Amin.

Selasa, 07 Maret 2017

AIR MINUM DI GURUN PASIR || BERKORBANLAH SEBELUM KAU MENERIMANYA LEBIH BANYAK

Seorang pria tersesat di gurun pasir. Ia hampir mati kehausan. Akhirnya, ia tiba di sebuah rumah kosong. Di depan rumah tua tanpa jendela dan hampir roboh itu, terdapat sebuah pompa air. Segera ia menuju pompa itu dan mulai memompa sekuat tenaga. Tapi, tidak ada air yang keluar.

Lalu ia melihat ada kendi kecil di sebelah pompa itu dengan mulutnya tertutup gabus dan tertempel kertas dengan tulisan,”Sahabat, pompa ini harus dipancing dengan air dulu.. Setelah Anda mendapatkan airnya, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum Anda pergi.” Pria itu mencabut gabusnya dan ternyata kendi itu berisi penuh air.

“Apakah air ini harus dipergunakan untuk memancing pompa? Bagaimana kalau tidak berhasil? Tidak ada air lagi. Bukankah lebih aman saya minum airnya dulu daripada nanti mati kehausan kalau ternyata pompanya tidak berfungsi? Untuk apa menuangkannya ke pompa karatan hanya karena instruksi di atas kertas kumal yang belum tentu benar?” Begitu pikirnya.

Untung suara hatinya mengatakan bahwa ia harus mencoba mengikuti nasihat yang tertera di kertas itu, sekali pun berisiko. Ia menuangkan seluruh isi kendi itu ke dalam pompa yang karatan itu dan dengan sekuat tenaga memompanya.

Benar!! Air keluar dengan melimpah. Pria itu minum sepuasnya.

Setelah istirahat memulihkan tenaga dan sebelum meninggalkan tempat itu, ia mengisi kendi itu sampai penuh, menutupkan kembali gabusnya dan menambahkan beberapa kata di bawah instruksi pesan itu: “Saya telah melakukannya dan berhasil. Engkau harus mengorbankan semuanya terlebih dahulu sebelum bisa menerima kembali secara melimpah. PERCAYALAH!! Inilah kebenaran hukum alam.”

Senin, 06 Maret 2017

JENDELA RUMAH SAKIT. HIKMAH DI BALIK SANG PEMBERI SEMANGAT HIDUP

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunua yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama saru jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

“Di luar jendela, tampak sebuah teman dengan kolam yang indah, itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemangdangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas.Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnya, dari hari ke hari, satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi,perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti semua kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan di dunia luat melalui jendela itu. betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG !!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.

“Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup” Kata perawat itu.

Minggu, 05 Maret 2017

JANGAN REMEHKAN KEBAIKAN SEKECIL APAPUN

Ketika sore sepulang kerja seorang suami melihat isteri yang tertidur pulas karena kecapekan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium kening isterinya dan bertanya, ‘Bunda, udah shalat Ashar belum?’ Isterinya terbangun dengan hati berbunga-bunga menjawab pertanyaan suami, ‘sudah yah.’ Isterinya beranjak dari tempat tidur mengambil piring yang tertutup, sore itu isterinya memasak kesukaan sang suami.

‘Lihat nih, aku memasak khusus kesukaan ayah.’ Piring itu dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya.

Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Isterinya bertanya, ‘Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku sama anak-anak paling tidak suka ama kepala ayam.’ Suaminya menjawab, ‘Itulah sebabnya karena kalian tidak suka maka ayah suka makan kepala ayam supaya isteriku dan anak-anakku mendapatkan bagian yang terenak.’

Mendengar jawaban sang suami, terlihat butir-butir mutiara mulai menuruni pipinya. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam. Tidak pernah dipikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus kecintaan suami terhadap dirinya dan anak-anak. ‘Makasih ya ayah atas cinta dan kasih sayangmu.’ ucap sang isteri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda kebahagiaan hadir didalam dirinya.

Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kecil yang dilakukan oleh sosok ayah kita, namun memiliki makna yang begitu besar, di dalamnya terdapat kasih sayang, cinta, pengorbanan dan tanggungjawab.

SUDAHKAH HIDUP ANDA TENANG?

“Tenang sudah hidup saya…” ia menghela nafasnya panjang seakan itu tarikan terakhirnya. Puas sekali, bukan, sangat puas bahkan yang tergambar di wajahnya. Binar matanya menyiratkan kebahagiaan hidup yang dijalaninya selama bertahun-tahun.

Ia memiliki isteri yang cantik, yang menjadi perantaran kelahiran seorang putri jelita serta tiga ksatria kecilnya. Rumah besar, berhalaman dan latar belakang yang luas. Kolam renang yang menyegarkan di kelilingi taman bunga yang indah menenteramkan pandangan. Bekerja dengan penghasilan yang takkan pernah habis hingga tanggal gajian berikutnya tiba, mobil mewah, serta beragam kenikmatan dunia lainnya yang tak dimiliki separuh lebih penduduk bumi ini.

“Apa yang membuat Anda tenang?” saya memberanikan diri bertanya kepadanya.

“Saya sudah mengasuransikan diri dan keluarga. Jika saya atau isteri dan anak-anak sakit, tidak perlu pusing memikirkan biaya rumah sakit. Berapa pun, akan ditanggung oleh asuransi,” jelasnya.

“Itu saja?”

“Oo tidak! Bahkan saya sudah mengasuransikan rumah, mobil dan seluruh harta yang saya miliki. Sehingga kalau pun rumah kebakaran, mobil hilang, saya tidak akan merasa sedih…”

“Apa lagi…?”

“Tentu saja saya memiliki asuransi pendidikan untuk anak-anak sampai mereka meraih gelar doktor. Selain itu, terpenting dari semuanya, asuransi jiwa terbaik pun sudah saya pilih. Jika saya meninggal nanti, isteri dan anak-anak akan mendapatkan dana asuransi hingga setengah milyar. Lebih dari cukup, sekadar menambah tabungan yang ada saat ini… indah bukan?”

Saya mengangguk. Mencoba memahami makna ketenangan hidup yang dinikmatinya. Sejurus kemudian, “Ada satu lagi asuransi yang belum Anda miliki…”

Ia tertegun. Dahinya mengerut, menerka-nerka apa yang saya pikirkan. Namun ia tak berhasil. Karena menurutnya, segala jenis program asuransi sudah dimilikinya.

“Ini program asuransi yang baru. Belum ada di perusahaan asuransi manapun,” saya membuatnya penasaran.

“Coba bandingkan, apakah asuransi jiwa yang Anda miliki bisa dinikmati sendiri setelah kematian Anda? Ya, Anda sendiri yang menikmatinya, bukan ahli waris Anda. Apakah asuransi Anda memberi kesempatan perlindungan di akhirat nanti?” ia semakin bingung.

“Bagaimana mungkin saya yang sudah mati bisa menikmatinya? Program asuransi macam apa itu? Bank mana yang mengeluarkan program itu? Berapa preminya per bulan?” sederet pertanyaan pun mengalir.

Nalarnya memang takkan pernah sampai. Memang belum pernah ada sebelumnya asuransi yang bisa dinikmati sendiri oleh si pemegang polis setelah kematiannya. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa menikmati klaim asuransi?

Yang dimaksud di sini memang bukan asuransi biasa. Premi yang dibayarkan berupa amal shaleh, dan ilmu yang terus dibagi kepada siapapun. Membuat Allah tersenyum, adalah asuransi dahsyat yang tanpa kita klaim pun, hasilnya boleh kita nikmati sesudah kematian menjemput.

Satu hal lagi bentuk investasi yang sangat menguntungkan dunia akhirat, yakni jika memiliki anak, bimbinglah agar tetap shaleh hingga dewasa, ia akan meringankan beban orang tuanya dengan doa yang tak henti dipintanya. Tahukah Anda, anak-anak itu senantiasa berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil”. Indah bukan?

Tertarik? Mulailah detik ini juga!

HIKMAH DO'A YANG BELUM TERKABUL


Ada seseorang yang rajin berdoa, minta sesuatu sama Allah. Orangnya sholeh. Ibadahnya baik. Tapi doa tak kunjung terkabul. Sebulan menunggu masih belum terkabul juga. Tetap dia berdoa. Tiga bulan juga belum. Tetap dia berdoa. Hingga hampir satu tahun doa yang ia panjatkan, belum terkabul juga.

Dia melihat teman kantornya. Orangnya biasa saja. Tak istimewa. Sholat masih bolong-bolong. Kelakuannya juga sering nggak beres, sering tipu-tipu, bohong sana-sini. Tapi anehnya, apa yang dia doain, semuanya dipenuhi. Orang sholeh ini pun heran.

Akhirnya, dia pun dateng ke seorang ustadz. Ceritalah dia permasalahan yang sedang dihadapi.
Tentang doanya yang sulit terkabul padahal dia taat, sedangkan temannya yang bandel, malah dapat apa yang dia inginkan.

Tersenyumlah ustadz ini. Bertanyalah si ustadz ke orang ini. Kalau Anda lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urakan, maen musiknya gak bener, suaranya fals, bagaimana?
Orang sholeh tadi menjawab, segera saya kasih pak ustadz, gak nahan ngeliat dan ndengerin dia lama-lama di situ, sambil nyanyi pula. Kalau pengamennya yang dateng rapi, main musiknya enak, suaranya empuk, bawain lagu yang kamu suka, bagaimana? Wah, kalo gitu, saya dengerin ustadz. Saya biarin dia nyanyi sampai habis. Lama pun nggak masalah. Kalau perlu saya suruh nyanyi lagi. Nyanyi sampai sealbum pun saya rela.

Kalau pengamen tadi saya kasih 500, yang ini 10.000 juga berani, ustadz. Pak ustadz pun tersenyum. begitulah nak. Allah ketika melihat engkau, yang sholeh, datang menghadap-Nya, Allah betah ndengerin doamu. Melihat kamu. Dan Allah pengen sering ketemu kamu dalam waktu yang lama. Buat Allah, ngasih apa yang kamu mau itu gampang betul. Tapi Dia pengen nahan kamu biar khusyuk, biar deket sama Dia. Coba bayangin, kalo doamu cepet dikabulin, apa kamu bakal sedeket ini? Dan di penghujung nanti, apa yang kamu dapatkan kemungkinan besar jauh lebih besar dari apa yang kamu minta. Beda sama temenmu itu. Allah gak mau kayaknya, dia deket-deket sama Allah. Udah dibiarin biar bergelimang dosa aja dia ini. Makanya Allah buru-buru kasih aja. Udah. Jatahnya ya segitu doang. Gak nambah lagi.
Dan yakinlah, kata pak ustadz, kalaupun apa yang kamu minta ternyata gak Allah kasih sampai akhir hidupmu, masih ada akhirat, nak.

Sebaik-baik pembalasan adalah jatah surga buat kita. Nggak bakal ngerasa kurang kita di situ.
Tersadarlah orang tadi. Ia pun beristighfar, sudah berprasangka buruk kepada Allah.
Padahal Allah betul-betul amat menyayanginya. Semoga kisah ini menjadi dapat pelajaran bagi kita semua... Aamiin ya rabb.