Selasa, 28 Februari 2017

KISAH NENEK PEMUNGUT DAUN

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid dan melakukan Shalat Dzuhur, setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar di kaisnya. tidak selembar dun pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. padahal matahari madura di siang hari sungguh menyengat. keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Banya pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.
Pada hari itu ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut.Tidak ada satu daunpun terserak. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah di sapukan sebelum kedatangannya.orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. "jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."
Singkat cerita, nenek itu di biarkan membersihkan dedaunan itu seperti biasa. seorang Kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada peempuan itu mengapa ia begitu bersemangat untuk membersihkan dedaunan itu. perempuan itu mau menjelaskan sebebnya dengan dua syarat:
Pertama: hanya Kiai yang mendengarkan syaratnya
Kedua: rahasia tu tidak boleh di sebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan anda dapat mendengarkan rahasia itu.
"Saya ini perempuan bodoh pak Kiai," tuturnya. "saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. saya tidak mungkin selamat pada hari akhir tanpa Syafa'at kanjeng Nabi Muhammad SAW. setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulallah. kelak jika saya mati, saya ingin kanjeng nabi menjemput saya. Biarlah daun ini bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."
Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dengan caranya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran sepiritual yang luhur. Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. ia sangat bergantung pada rahmat Allah swt. dan siapa lagi yang menjadi rahmat semesta alam selain Rasulullah??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar